Mencari Kesatuan dalam Keberagaman
Cerpen Rahma Alfiyani (XI.10)
Rayma adalah seorang siswi SMP Harapan Baru, salah satu sekolah yang terletak di Kampung Sentosa. Di kampung tersebut, terdapat banyak suku yang dimiliki oleh setiap warganya. Bahkan di sekolah Rayma, siswa-siswi memiliki latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari suku, ras, dan budaya.
Rayma sendiri berasal dari keluarga yang bersuku Jawa, sementara teman-temannya di sekolah memiliki suku yang berbeda-beda. Salah satu teman baik Rayma, Alfi berasal dari keluarga yang bersuku Batak. Teman-teman Rayma lainnya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, seperti Sasa dari Minangkabau dan Teteh dari Sunda.
Walaupun mereka berasal dari suku yang berbeda, mereka tetap berteman dengan baik tanpa membeda-bedakan perbedaan yang ada. Mereka menyadari bahwa perbedaan bukanlah suatu hambatan untuk bisa berbaur satu dengan yang lain.
Pada suatu hari, pada pelajaran Pendidikan Pancasila, mereka diberi tugas oleh guru mereka, Ibu Sri, untuk membuat poster tentang keberagaman suku yang ada di Indonesia.
"Selamat pagi anak-anak!" ucap Bu Sri dengan suara yang ceria saat memasuki kelas.
"Pagi, Buuu!" jawab murid-murid dengan penuh semangat.
"Bagaimana kabar kalian hari ini?" tanya Bu Sri dengan senyum.
"Baik, Buuu!" jawab mereka serempak.
"Baik, untuk pembelajaran hari ini, kita akan membahas tentang keberagaman suku yang ada di Indonesia. Kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak sekali suku, mulai dari suku Jawa, Sunda, Batak, dan banyak lagi," ujar Bu Sri menjelaskan materi pembelajaran dengan antusias.
Setelah menerangkan dan menjelaskan materi pembelajaran, kini saatnya Bu Sri memberi tugas kepada mereka.
"Oke, jadi itu tadi materi tentang keberagaman suku yang ada di Indonesia. Sekarang ibu akan memberi tugas kepada kalian," ujar Bu Sri dengan suara yang jelas. "Tugasnya berkelompok, yaitu membuat poster tentang keberagaman suku yang ada di Indonesia. Setiap kelompok beranggotakan 4 orang, jadi kalian pilih sendiri teman sekelompok kalian," sambung Bu Sri.
"Baik ibu, oh iya Bu saya mau tanya, tugasnya dikumpulkan kapan ya Bu?" tanya Rayma dengan rasa ingin tahu.
"Untuk tugasnya bisa dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya," jawab Bu Sri dengan sabar.
"Baik itu saja, pertemuan kita hari ini ibu cukupkan sampai disini," ucap Bu Sri menutup pembelajarannya.
"Baik bu, terima kasih," jawab murid-murid dengan serempak.
"Selamat siang semuanya!" pamit Bu Sri dengan senyum.
"Siang Buk, terimakasih," balas mereka dengan hormat.
Setelah Bu Sri meninggalkan kelas, mereka mulai memilih teman kelompoknya. Rayma, Alfi, teteh, dan Sasa menuliskan untuk menjadi satu kelompok.
"Oke, kan kita sekarang sudah punya kelompok, kita mau bagaimana mengerjakannya?" tanya Alfi dengan penasaran.
"Bagaimana jika kita mengerjakannya besok di rumah Rayma?" ujar teteh dengan usul.
"Boleh juga di rumahku, bagaimana yang lain?" jawab Rayma dengan terbuka.
"Aku dan Sasa ikut saja," ujar Teteh dengan senyum.
Keesokan harinya, mereka berkumpul di rumah Rayma untuk mengerjakan tugas kelompok. Mereka mulai mengerjakan tugas tersebut dengan semangat.
"Ayo kita kerjakan sekarang, mau mulai dari mana ini?" ujar Teteh dengan antusias.
"Ayok kita kerjakan dari menentukan suku untuk kita bahas dalam tugas ini," ujar Rayma
"Oke, bagaimana jika kita menggunakan Suku Jawa dan Sunda?" ujar Teteh dengan usul.
"Kok hanya suku Jawa dan Sunda saja, suku Minangkabau tidak?" ujar Sasa dengan sedikit kesal.
"Iya, Batak juga tidak?" tambah Alfi dengan nada yang sama.
Terlihat dari raut wajah Sasa dan Alfi, mereka seakan tidak terima bahwa sukunya tidak diikutsertakan untuk tugas tersebut.
"Jika diikutsertakan semua itu akan tidak cukup di dalam kertas ini, begini saja apakah kalian mau suku kalian diikutisertakan tugas ini?" ujar Teteh dengan bijak.
"Ya harus dong, kan kita juga memiliki suku, tidak hanya kalian saja jadi kami mau suku kami juga ikut dicantumkan ke dalam tugas tersebut," ujar Alfi dengan tegas.
"Ya bagaimanapun kita ini memiliki suku yang berbeda-beda, jika hanya mencantumkan dua suku bukankah itu terlihat tidak adil?" tambah Sasa dengan logis.
"Begini, biar aku jelaskan, kita ini hidup di dalam sebuah negara yang memiliki suku yang berbeda-beda, namun ingatkah kalian dengan Sumpah Pemuda? Di sana terdapat kalimat yang berbunyi '… kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia...'," ujar Rayma dengan sabar.
"Ya tentu saja itu pun baru dibahas oleh Bu Sri kemarin," jawab Sasa dengan kesadaran.
"Nah, itu kalian ingat, jadi walaupun kita berasal dari suku yang berbeda-beda, itu bukan suatu halangan dan hambatan untuk bersatu," ujar Rayma dengan bijak.
"Betul itu, juga dalam tugas ini kita tidak membeda-bedakan suku, kita tidak boleh rasis terhadap suku yang lain, kita harus toleransi pada semua suku yang ada di Indonesia," tambah Teteh dengan antusias.
"Iya juga ya, toh ini hanya untuk tugas, tetapi di dalam kehidupan sehari-hari kita juga tidak boleh membeda-bedakan suku," ujar Alfi dengan kesadaran.
"Benar juga, baiklah maafkan kami jika telah membuat keributan hanya untuk masalah yang sepele," ujar Alfi dan Sasa dengan rendah hati.
"Baiklah tidak apa-apa, tapi kalian jangan mengulanginya lagi ya," ujar Teteh dengan senyum.
"Ya baik, kita tidak akan mengulanginya lagi," ujar Alfi dan Sasa bersamaan.
"Kita lanjutkan lagi tugas kita," ujar Rayma dengan semangat.
"Ayo ayo," ujar mereka serempak.
Setelah mereka menyelesaikan tugas dengan waktu yang cukup lama, akhirnya tugas tersebut pun selesai.
"Akhirnya selesai jugaaa," ucap Sasa sambil meregangkan tubuhnya.
"Iya akhirnya selesai tugasnya," ujar Teteh dengan lega.
"Nah kan, jika kita saling bersatu maka semua itu akan terasa ringan, kita bisa menyelesaikan poster ini" ujar Rayma
"Betul ituu" jawab mereka serempak
"Walaupun kita memiliki suku dan budaya yang berbeda-beda kita harus tetapi toleransi dan berteman sampai kapanpun" ujar Teteh dengan bijak.
"SETUJUUUUU!!" ujar mereka serempak dan saling berpelukan..
Setelah mengerjakan tugas tersebut, mereka tidak hanya menyelesaikan tugas dari guru, tetapi mereka juga belajar tentang toleransi dan keberagaman suku dan budaya di Indonesia. Mereka jadi tahu bahwa perbedaan suku dan budaya bukan menjadi halangan dan hambatan untuk bersatu. Mereka juga berjuang bersama-sama untuk bisa menyelesaikan tugas tersebut ..., seperti sikap para pahlawan yang berjuang bersama untuk melakukan perlawanan terhadap kolonial, dan mempersatukan putra-putri Indonesia untuk menjadi NKRI.
Pada masa itu para pahlawan tidak memandang dari mana dan bagaimana suku serta budaya mereka berasal, yang mereka tahu bahwa mereka harus menjadi satu kesatuan untuk bisa berjuang bersama.
Dan itu juga dicerminkan oleh Rayma dan teman temannya, tahu dan sadar bahwa persatuan adalah kunci dari keberhasilan bersama.
No comments:
Post a Comment