Tuesday, October 28, 2025

 

Kehidupan Ganda Zea

 Cerpen Lulu Uljannah

Zea, siswi kelas XI yang hidupnya terasa sunyi di sekolah. Ia seolah mengasingkan diri dari dunia luar, dari keramaian yang tak pernah menarik perhatiannya. Seseorang yang selalu duduk di kursi paling pojok dekat jendela, sampai teman-temannya menjulukinya: Si Penghuni Pojok Kelas. Di sana, ia hanya fokus pada tablet yang selalu ia genggam, menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah memiliki rahasia besar di dalamnya. Tak ada yang tahu apa yang ia lihat di sana.

 

Tak jarang ia mendapatkan kata-kata yang tak pantas dari teman kelasnya.

“Kalo tabletnya rusak, Zea pasti bakal kesepian banget tuh.”

“Sadar, Ze! Di luar sana ada hal yang lebih menarik dari pada dunia di tablet lo itu.”

 

Dunia nyata memang tak pernah terlalu ramah padanya. Ia dihujat karena diam, diejek karena berbeda. Meski begitu, Zea pura-pura tidak mendengar. la hanya fokus pada tablet yang digenggamnya, padahal setiap kata itu seperti pisau yang menggores dadanya. Namun, dibalik semua luka itu, tersembunyi sesuatu yang tak pernah diduga oleh siapapun. Zea, didunia nyata yang di anggap aneh, diam, dan sunyi, ternyata di dalam dunia maya, ia adalah sosok dibalik akun yang bernama @Zartea. Seorang seniman yang dikenal ribuan orang karena selalu menampilkan karya-karya lukisannya yang membuat orang merasa terpukau saat melihatnya.

 

Tak ada yang tahu, ternyata sosok dibalik nama besar itu hanyalah Zea, gadis aneh yang dijuluki si penghuni pojok kelas. Setiap malam, Zea selalu menatap layar tabletnya dengan tersenyum kecil yang nyaris tak pernah terlihat di sekolah. Notifikasi terus membanjiri postingan yang ia upload di akun Zartea. Komentar positif selalu berdatangan, memuji keindahan yang tersirat dalam lukisannya.

 

"Hasil lukisan Zartea emang gak pernah gagal, selalu menarik untuk dilihat."

"Tutor dong biar bisa sekeren kakak."

 

Zea membaca semua komentar perlahan, satu persatu. Namun malam itu, ada satu

komentar yang membuat Zea berhenti sejenak.

“Aku itu selalu kagum sama karya-karya kamu, Zartea. Pengen banget jadi sekeren kamu. Makasih ya, sudah jadi inspirasiku”

 

Zea menatap username itu lama. Entah kenapa terasa familiar. la berusaha mengingatnya. “matchalove ..?” gumamnya.

Tapi Zea mengabaikannya, dan hanya tersenyum tipis, mengetik balasan singkat

“Terima kasih ya, semoga kamu juga terus berkarya.”

Sampai akhirnya ia tertidur. Namun pagi datang terlalu cepat, dan seperti biasa, ia harus kembali pada dunia nyata yang terasa asing baginya. Seolah memiliki kehidupan ganda. Dua dunia yang berbanding terbalik. Namun, keduanya adalah dirinya yang sama. Tapi dengan jiwa yang berbeda. Begitulah kehidupannya sehari-hari, terjebak dalam dua dunia yang berbeda.

 

Hingga suatu hari, sesuatu terjadi di sekolahnya. Sebuah pengumuman terpampang jelas di papan informasi: akan diadakan pameran seni dan lomba lukis antar siswa. Saat itu, Zea yang kebetulan sedang berjalan melewati koridor depan aula, melihat banyak siswa berkerumun menatap pengumuman itu, dengan suara-suara riuh memenuhi koridor depan aula.

 

"Wah, bakal ada pameran seni! Seru banget ya!"

"Coba aja kalau hadiahnya iPhone, gue pasti ikut sih, wkwk."

 

Zea yang awalnya hanya lewat, dan tidak peduli, tidak sengaja mendengar dan mendadak berhenti, perlahan ia mulai mendekat dan membaca pengumuman itu. “Pameran seni...” bisiknya pelan.

 

Dalam hatinya, Zea ingin ikut, namun takut jika nanti teman-temannya mengetahui identitas aslinya sebagai Zartea. Seseorang seniman yang dikagumi banyak orang. Namun dibalik rasa takut itu, ada suara kecil yang berbisik. "Coba aja dulu, Ze ... siapa tahu ini waktumu buat bersinar di dunia nyata."

 

Seketika ia berpikir, mungkin ini memang kesempatannya. Kesempatan untuk bersinar, bukan hanya di dunia maya tapi juga di dunia nyata. Akhirnya, Zea memberanikan diri untuk ikut. Ia menulis namanya diformulir pendaftaran.

 

Waktu berlalu, hari pameran pun tiba. Zea datang lebih pagi dari siapapun, membawa lukisan yang selama ini ia buat dengan sepenuh hati. Lukisan itu adalah karya terbaik yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapapun. Bahkan, di akun Zartea. Saat pameran dimulai, lukisan Zea yang diletakkan di sudut ruang yang diterangi cahaya matahari pagi, menarik perhatian guru dan juri, lukisan itu terasa hidup, Hingga semua mata tertuju pada lukisannya

 

Lalu, tak lama kemudian. Pengumuman dimulai, Dan ternyata, nama Zea dipanggil, ia dinobatkan sebagai pemenang terbaik tahun ini. Dirinya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. "Aku? Menang?" pikirnya dalam hati.

 

Teman-teman sekelasnya menatapnya dengan wajah tak percaya, seseorang yang

selama ini mereka anggap cupu ternyata memiliki bakat yang luar biasa.

Namun, di tengah kerumunan itu, sepasang mata menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Sarah, teman kelas Zea yang sering mengolok-ngoloknya kini terdiam. Ada rasa iri yang seketika muncul dalam dirinya. Melihat seseorang yang selama ini ia remehkan justru lebih berbakat daripada dirinya. Karena Sarah juga menyukai dunia seni, tapi ia selalu diliputi rasa ragu dan tidak percaya diri terhadap kemampuannya sendiri. Lalu, ada satu hal yang semakin membuatnya merasa iri, lukisan milik Zea terasa begitu familiar, baginya. Lukisan itu membawa ingatannya pada karya seorang seniman yang selama ini ia kagumi diam-diam, yang tak lain adalah Zartea.

 

Saat itu, Sarah berpikir bahwa Zea mungkin penggemar Zartea sama seperti dirinya, yang ternyata Zea berhasil menguasai teknik melukis yang diajarkan Zartea di media sosial. Justru karena hal itu Sarah semakin iri dan tak suka pada Zea.

 

"Bagaimana bisa, Zea ... gadis aneh itu justru lebih pandai dariku?" batinnya bergemuruh.

 

Sampai keesokan harinya. Setelah pameran, sekolah masih ramai membicarakan

kemenangan Zea. Sarah yang masih diliputi rasa iri, memiliki niat buruk untuk menjatuhkan Zea dengan menyebarkan gosip bahwa lukisan Zea hanya meniru gaya lukisan Zartea.

 

Guys ... tahu ga sih, kayaknya lukisan Zea itu mirip banget deh sama gaya lukisan Zartea, jangan-jangan dia nyontek?”

 

Tak disangka, gosip itu menyebar dengan cepat ke seluruh kelas. Hingga sampai ke telinga Zea, saat ia mendengar namanya disebut, kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira. Saat itu, ia hanya diam tanpa menjelaskan apapun.

 

"Biarkan waktu yang menjawabnya." ucapnya dalam hati. Kemudian ia pergi meninggalkan suasana kelas yang sedang memanas karena gosip tentang dirinya. Tapi saat itu ia lupa membawa tablet yang selalu ia genggam kemana pun ia pergi, entah karena pikirannya yang sedang kacau atau karena hatinya masih dipenuhi rasa sedih.

 

Sarah yang melihat hal tak biasa itu, spontan merasa penasaran dengan tablet Zea yang tak pernah ia tinggal. Ia menatap tablet di meja Zea yang masih menyala. Perlahan, ia mulai mendekat. Betapa terkejutnya ia ketika melihat tampilan didalamnya. Di sana terbuka akun Zartea dengan pesan yang sedang dibaca Zea.

 

"Terima kasih @Zartea, selalu menjadi inspirasiku."

Pesan itu berasal dari akun bernama @matchalove. Akun yang tak lain adalah milik Sarah sendiri. Sarah terpaku. Tangannya mulai gemetar. Saat membaca pesan, yang tak lain adalah pesan darinya yang ia tulis semalam untuk Zartea. Wajah Sarah mendadak pucat.

 

"Jadi selama ini, Zartea adalah Zea ...?"

 

Seseorang yang setiap hari ia ejek. Adalah sosok yang selama ini ia kagumi diam-diam. Ia mundur satu langkah, tubuhnya seperti kehilangan tenaga, hingga akhirnya jatuh terduduk. Suara benda yang ikut terjatuh menarik perhatian teman-teman dikelasnya.

 

"Eh, kenapa, Sarah?" tanya salah satu dari mereka.

 

Namun pandangan mereka langsung tertuju pada ekspresi Sarah yang membeku

menatap tablet di atas meja. Mereka pun segera mendekat. Saat layar tablet itu menampilkan sesuatu. Di sana, terpampang jelas tulisan yang mengungkap kebenaran: akun Zartea ternyata milik Zea. Mereka saling pandang, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Gosip yang tadi memanas tentang Zea yang meniru Zartea. Kini, berubah menjadi kebenaran bahwa Zartea memanglah Zea.

 

Ditengah keheningan kelas saat itu, Zea muncul. Gadis itu berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan di depannya dengan tatapan bingung. Melihat tablet yang selama ini ia sembunyikan kini berada di tangan orang lain. Tatapan teman-temannya kini bukan lagi tatapan meremehkan, melainkan campuran antara kaget dan bersalah.

 

"Zea ..." suara salah satu temannya lirih nyaris tak terdengar. Yang tak lain adalah suara Sarah, rasa bersalah terlihat dari raut wajahnya. Zea hanya diam, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dan ketika matanya tertuju pada tabletnya yang terbuka ditangan Sarah. Seketika ia paham. Rahasia yang selama ini ia jaga rapat-rapat akhirnya terungkap. Sarah, tiba-tiba mendekat, lalu memeluknya erat.

 

"Zea ... aku … aku minta maaf,” suara isak tangis Sarah yang terdengar.

"Aku yang nyebarin gosip itu. Aku iri sama kamu. Aku pikir, kamu cuma meniru Zartea … tapi ternyata kamu memang Zartea itu sendiri."

 

Zea terpaku, tak tahu harus bereaksi seperti apa. la menghela nafas pelan.

"Sudahlah," katanya lirih "Aku nggak marah, cuma berharap kamu tahu. Kalau semua orang bisa bersinar dengan caranya sendiri."

 

Satu persatu, mereka pun ikut mendekat.

"Zea, maaf ya..."

"Selama ini kami cuma nganggap kamu remeh"

 

Zea tersenyum kecil. Saat itu, tak ada lagi jarak di antara mereka. Yang tersisa hanyalah rasa lega dan kehangatan yang tumbuh di antara mereka. Namun, ada satu hal yang masih berputar dibenaknya. Saat ia mengetahui bahwa akun @matchalove. Akun yang sering memberi komentar hangat itu ternyata adalah milik Sarah. Siapa sangka, sosok yang menyakitinya di dunia nyata adalah sosok yang mengaguminya di dunia maya.

 

Sejak hari itu, suasana kelas tak lagi sama. Sarah dan teman-teman lain sering duduk di dekat Zea, membawa kuas dan cat mereka masing-masing. Mereka mulai melukis bersama, dengan penuh semangat dan canda ria. Bagi Zea, itu bukan sekedar awal baru. Tapi itu adalah bentuk penerimaan. Kini, Zea tak lagi takut menatap dunia nyata. la tak perlu lagi bersembunyi di balik layar, karena akhirnya, ia tahu bahwa cahayanya bisa bersinar di dunia nyata.

 

Dari kisah ini, Zea belajar bahwa keberanian untuk menjadi diri sendiri adalah langkah menuju kebahagiaan yang sesungguhnya. Cukup dengan percaya pada diri sendiri, maka dunia pun akan mulai percaya padamu.

No comments:

Post a Comment

Pangkalan Muri Raya SMAN 1 Bangunrejo Raih Sejumlah Prestasi Pada Hari Minggu 25 Januari 2026, anggota pramuka SMAN 1 Bangunrejo mengikuti k...