Kehidupan Ganda
Zea
Zea, siswi
kelas XI yang hidupnya terasa sunyi di sekolah. Ia seolah mengasingkan diri dari
dunia luar, dari keramaian yang tak pernah menarik perhatiannya. Seseorang yang
selalu duduk di kursi paling pojok dekat jendela, sampai teman-temannya
menjulukinya: Si
Penghuni Pojok Kelas. Di sana, ia hanya fokus pada tablet yang
selalu ia genggam, menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah memiliki rahasia
besar di dalamnya. Tak ada yang tahu apa yang ia lihat di sana.
Tak jarang
ia mendapatkan kata-kata yang tak pantas dari teman kelasnya.
“Kalo tabletnya rusak, Zea
pasti bakal kesepian banget tuh.”
“Sadar, Ze! Di luar sana
ada hal yang lebih menarik dari pada dunia di tablet lo itu.”
Dunia nyata
memang tak pernah terlalu ramah padanya. Ia dihujat karena diam, diejek karena
berbeda. Meski begitu, Zea pura-pura tidak mendengar. la hanya fokus pada
tablet yang digenggamnya, padahal setiap kata itu seperti pisau yang menggores
dadanya. Namun, dibalik semua luka itu, tersembunyi sesuatu yang tak pernah
diduga oleh siapapun. Zea, didunia nyata yang di anggap aneh, diam, dan sunyi,
ternyata di dalam dunia maya, ia adalah sosok dibalik akun yang bernama @Zartea. Seorang
seniman yang dikenal ribuan orang karena selalu menampilkan karya-karya lukisannya
yang membuat orang merasa terpukau saat melihatnya.
Tak ada
yang tahu, ternyata sosok dibalik nama besar itu hanyalah Zea, gadis aneh yang dijuluki
si penghuni pojok kelas. Setiap malam, Zea selalu menatap layar tabletnya
dengan tersenyum kecil yang nyaris tak pernah terlihat di sekolah. Notifikasi
terus membanjiri postingan yang ia upload di akun Zartea. Komentar positif
selalu berdatangan, memuji keindahan yang tersirat dalam lukisannya.
"Hasil lukisan Zartea
emang gak pernah gagal, selalu menarik untuk dilihat."
"Tutor dong biar bisa
sekeren kakak."
Zea membaca
semua komentar perlahan, satu persatu. Namun malam itu, ada satu
komentar
yang membuat Zea berhenti sejenak.
“Aku itu selalu kagum sama
karya-karya kamu, Zartea. Pengen banget jadi sekeren kamu. Makasih ya, sudah
jadi inspirasiku”
Zea menatap
username itu lama. Entah kenapa terasa familiar. la berusaha mengingatnya.
“matchalove ..?” gumamnya.
Tapi Zea
mengabaikannya, dan hanya tersenyum tipis, mengetik balasan singkat
“Terima kasih ya, semoga
kamu juga terus berkarya.”
Sampai akhirnya
ia tertidur. Namun pagi datang terlalu cepat, dan seperti biasa, ia harus kembali
pada dunia nyata yang terasa asing baginya. Seolah memiliki kehidupan ganda.
Dua dunia yang berbanding terbalik. Namun, keduanya adalah dirinya yang sama.
Tapi dengan jiwa yang berbeda. Begitulah kehidupannya sehari-hari, terjebak
dalam dua dunia yang berbeda.
Hingga
suatu hari, sesuatu terjadi di sekolahnya. Sebuah pengumuman terpampang jelas
di papan informasi: akan
diadakan pameran seni dan lomba lukis antar siswa. Saat itu, Zea yang kebetulan sedang berjalan
melewati koridor depan aula, melihat banyak siswa berkerumun menatap pengumuman
itu, dengan suara-suara riuh memenuhi koridor depan aula.
"Wah, bakal ada
pameran seni! Seru banget ya!"
"Coba aja kalau hadiahnya
iPhone, gue pasti ikut sih, wkwk."
Zea yang
awalnya hanya lewat, dan tidak peduli, tidak sengaja mendengar dan mendadak
berhenti, perlahan ia mulai mendekat dan membaca pengumuman itu. “Pameran seni...”
bisiknya pelan.
Dalam
hatinya, Zea ingin ikut, namun takut jika nanti teman-temannya mengetahui identitas
aslinya sebagai Zartea. Seseorang seniman yang dikagumi banyak orang. Namun
dibalik rasa takut itu, ada suara kecil yang berbisik. "Coba
aja dulu, Ze ... siapa tahu ini waktumu buat bersinar di dunia nyata."
Seketika ia
berpikir, mungkin ini memang kesempatannya. Kesempatan untuk bersinar, bukan
hanya di dunia maya tapi juga di dunia nyata. Akhirnya, Zea memberanikan diri
untuk ikut. Ia menulis namanya diformulir pendaftaran.
Waktu berlalu,
hari pameran pun tiba. Zea datang lebih pagi dari siapapun, membawa lukisan
yang selama ini ia buat dengan sepenuh hati. Lukisan itu adalah karya terbaik
yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapapun. Bahkan, di akun Zartea. Saat
pameran dimulai, lukisan Zea yang diletakkan di sudut ruang yang diterangi cahaya
matahari pagi, menarik perhatian guru dan juri, lukisan itu terasa hidup,
Hingga semua mata tertuju pada lukisannya
Lalu, tak
lama kemudian. Pengumuman dimulai, Dan ternyata, nama Zea dipanggil, ia dinobatkan
sebagai pemenang terbaik tahun ini. Dirinya tak percaya dengan apa yang baru
saja ia dengar. Suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.
"Aku? Menang?" pikirnya dalam hati.
Teman-teman
sekelasnya menatapnya dengan wajah tak percaya, seseorang yang
selama ini
mereka anggap cupu ternyata memiliki bakat yang luar biasa.
Namun, di
tengah kerumunan itu, sepasang mata menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
Sarah, teman kelas Zea yang sering mengolok-ngoloknya kini terdiam. Ada rasa
iri yang seketika muncul dalam dirinya. Melihat seseorang yang selama ini ia
remehkan justru lebih berbakat daripada dirinya. Karena Sarah juga menyukai
dunia seni, tapi ia selalu diliputi rasa ragu dan tidak percaya diri terhadap
kemampuannya sendiri. Lalu, ada satu hal yang semakin membuatnya merasa iri,
lukisan milik Zea terasa begitu familiar, baginya. Lukisan itu membawa
ingatannya pada karya seorang seniman yang selama ini ia kagumi diam-diam, yang
tak lain adalah Zartea.
Saat itu,
Sarah berpikir bahwa Zea mungkin penggemar Zartea sama seperti dirinya, yang
ternyata Zea berhasil menguasai teknik melukis yang diajarkan Zartea di media
sosial. Justru karena hal itu Sarah semakin iri dan tak suka pada Zea.
"Bagaimana
bisa, Zea ... gadis aneh itu justru lebih pandai dariku?" batinnya bergemuruh.
Sampai
keesokan harinya. Setelah pameran, sekolah masih ramai membicarakan
kemenangan
Zea. Sarah yang masih diliputi rasa iri, memiliki niat buruk untuk menjatuhkan Zea
dengan menyebarkan gosip bahwa lukisan Zea hanya meniru gaya lukisan Zartea.
“Guys ...
tahu ga sih, kayaknya lukisan Zea itu mirip banget deh sama gaya lukisan Zartea,
jangan-jangan dia nyontek?”
Tak
disangka, gosip itu menyebar dengan cepat ke seluruh kelas. Hingga sampai ke telinga
Zea, saat ia mendengar namanya disebut, kata itu menusuk lebih dalam dari yang
ia kira. Saat itu, ia hanya diam tanpa menjelaskan apapun.
"Biarkan waktu yang menjawabnya."
ucapnya dalam hati. Kemudian ia pergi
meninggalkan suasana kelas yang sedang memanas karena gosip tentang dirinya.
Tapi saat itu ia lupa membawa tablet yang selalu ia genggam kemana pun ia pergi,
entah karena pikirannya yang sedang kacau atau karena hatinya masih dipenuhi
rasa sedih.
Sarah yang
melihat hal tak biasa itu, spontan merasa penasaran dengan tablet Zea yang tak
pernah ia tinggal. Ia menatap tablet di meja Zea yang masih menyala. Perlahan,
ia mulai mendekat. Betapa terkejutnya ia ketika melihat tampilan didalamnya. Di
sana terbuka akun Zartea dengan pesan yang sedang dibaca Zea.
"Terima kasih
@Zartea, selalu menjadi inspirasiku."
Pesan itu
berasal dari akun bernama @matchalove. Akun yang tak lain adalah milik Sarah sendiri. Sarah terpaku. Tangannya
mulai gemetar. Saat membaca pesan, yang tak lain adalah pesan darinya yang ia tulis
semalam untuk Zartea. Wajah Sarah mendadak pucat.
"Jadi selama ini,
Zartea adalah Zea ...?"
Seseorang
yang setiap hari ia ejek. Adalah sosok yang selama ini ia kagumi diam-diam. Ia
mundur satu langkah, tubuhnya seperti kehilangan tenaga, hingga akhirnya jatuh
terduduk. Suara benda yang ikut terjatuh menarik perhatian teman-teman
dikelasnya.
"Eh, kenapa, Sarah?"
tanya salah satu dari mereka.
Namun
pandangan mereka langsung tertuju pada ekspresi Sarah yang membeku
menatap
tablet di atas meja. Mereka pun segera mendekat. Saat layar tablet itu
menampilkan sesuatu. Di sana, terpampang jelas tulisan yang mengungkap
kebenaran: akun Zartea ternyata milik Zea. Mereka saling pandang, tak percaya
dengan apa yang baru saja mereka lihat. Gosip yang tadi memanas tentang Zea
yang meniru Zartea. Kini, berubah menjadi kebenaran bahwa Zartea memanglah Zea.
Ditengah
keheningan kelas saat itu, Zea muncul. Gadis itu berdiri di ambang pintu, menatap
pemandangan di depannya dengan tatapan bingung. Melihat tablet yang selama ini
ia sembunyikan kini berada di tangan orang lain. Tatapan teman-temannya kini
bukan lagi tatapan meremehkan, melainkan campuran antara kaget dan bersalah.
"Zea ..." suara salah satu temannya lirih nyaris tak terdengar. Yang tak lain
adalah suara Sarah, rasa bersalah terlihat dari raut wajahnya. Zea hanya diam,
mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dan ketika matanya tertuju pada
tabletnya yang terbuka ditangan Sarah. Seketika ia paham. Rahasia yang selama
ini ia jaga rapat-rapat akhirnya terungkap. Sarah, tiba-tiba mendekat, lalu
memeluknya erat.
"Zea ... aku … aku
minta maaf,”
suara isak tangis Sarah yang terdengar.
"Aku yang nyebarin
gosip itu. Aku iri sama kamu. Aku pikir, kamu cuma meniru Zartea … tapi
ternyata kamu memang Zartea itu sendiri."
Zea
terpaku, tak tahu harus bereaksi seperti apa. la menghela nafas pelan.
"Sudahlah," katanya
lirih "Aku nggak marah, cuma berharap kamu tahu. Kalau semua orang bisa
bersinar dengan caranya sendiri."
Satu
persatu, mereka pun ikut mendekat.
"Zea, maaf
ya..."
"Selama ini kami cuma
nganggap kamu remeh"
Zea
tersenyum kecil. Saat itu, tak ada lagi jarak di antara mereka. Yang tersisa
hanyalah rasa lega dan kehangatan yang tumbuh di antara mereka. Namun, ada satu
hal yang masih berputar dibenaknya. Saat ia mengetahui bahwa akun @matchalove. Akun yang
sering memberi komentar hangat itu ternyata adalah milik Sarah. Siapa sangka,
sosok yang menyakitinya di dunia nyata adalah sosok yang mengaguminya di dunia
maya.
Sejak hari
itu, suasana kelas tak lagi sama. Sarah dan teman-teman lain sering duduk di dekat
Zea, membawa kuas dan cat mereka masing-masing. Mereka mulai melukis bersama, dengan
penuh semangat dan canda ria. Bagi Zea, itu bukan sekedar awal baru. Tapi itu
adalah bentuk penerimaan. Kini, Zea tak lagi takut menatap dunia nyata. la tak
perlu lagi bersembunyi di balik layar, karena akhirnya, ia tahu bahwa cahayanya
bisa bersinar di dunia nyata.
Dari kisah
ini, Zea belajar bahwa keberanian untuk menjadi diri sendiri adalah langkah menuju
kebahagiaan yang sesungguhnya. Cukup dengan percaya pada diri sendiri, maka
dunia pun akan mulai percaya padamu.
No comments:
Post a Comment