Tentang Aku dan Dia
Cerpen oleh Nadila Ernesta
Kembali ku pijakkan kakiku di sebuah gedung tempat di mana aku menimba ilmu pada masa putih biru. Aku mengedarkan pandanganku menelisik tempat di mana banyak hal yang pernah kulakukan di sana. Ada secercah rasa rindu yang kurasakan, yang tak dapat ku utarakan dengan kata.
Ku ayunkan kakiku menyisir satu persatu tempat yang membuatku merasa dejavu. Langkahku terhenti ketika sampai di aula. Aku tertegun, sepintas bayangan berputar di kepalaku bagaikan kaset rusak. Momen-momen indah seakan kembali terulang di sana.
Masih kuingat jelas, aula menjadi saksi bisu di mana aku bertemu dengannya. Seorang anak SMP yang seumuran denganku dengan penampilan yang selalu rapi serta senyum manis yang selalu menghiasi wajah tampannya.
Awalnya aku hanya mengaguminya karena kelebihan yang dimilikinya. Dia berbeda dengan anak lainnya, jika anak laki-laki lain lebih memilih pasrah kepada nilai ujiannya maka ia akan belajar bersungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai yang tinggi.
Dia pernah berkata kepadaku, "Hai lihat aja nanti pasti nilai aku jauh lebih tinggi dari nilaimu." Dia mengatakan itu dengan rasa percaya diri walaupun memang tetap nilaiku yang lebih tinggi.
Jika anak laki-laki lain lebih memilih bermain sampai tak tahu waktu, maka dia tidak. Dia mengikuti salah satu ekskul dan satu organisasi di SMP kala itu dan tentunya dia cenderung lebih sering menghabiskan waktu di sekolah, namun bukan berarti dia tidak pernah berinteraksi, justru dia adalah orang yang ramah dan memiliki banyak teman. Salah satu hobi yang dia sukai adalah memancing.
Entah kebetulan atau bukan aku satu organisasi dan satu ekskul dengan dirinya, banyak hal dan kegiatan yang harus kami lakukan bersama dan lambat laun perasaan ini mulai muncul pada diriku. Tidak ada yang mengetahuinya dan aku menutup rapat rapat perasaanku.
Aku kembali mengayunkan kakiku menuju ruang tata usaha untuk mengambil raportku, saat tiba di ruangan tersebut aku melihat sosok yang tidak asing di mataku. Itu dia yang aku kagumi kini tengah berdiri membelakangiku, aku kembali tertegun, sudah lumayan lama rasanya aku tidak bertemu dengannya. Namun perasaan yang terpendam ini ternyata tak kunjung hilang walaupun lama tak berjumpa.
Aku memandanginya, perlahan tapi pasti kakiku melangkah mendekatinya, Dia menoleh, menyadari keberadaanku. Ada rasa rindu yang tak mampu kuutarakan padanya. Dia tersenyum padaku, senyum yang selama ini kurindukan kini aku dapat melihatnya kembali ia juga melambaikan tangan padaku lalu ia mendekatiku.
"Halloo, lama tak berjumpa ya?" sapanya.
Mulutku terasa kelu. Ada banyak hal yang ingin sekali kuungkapkan namun rasanya ucapanku hanya tertahan di tenggorokan.
Aku lalu membalas perkataannya, "Hai? Iya ... bagaimana kabarmu?"
Dia kemudian menjawab, "Ahh kabarku baik, bagaimana denganmu?"
"Aku baik," jawabku padanya.
Banyak hal yang ingin sekali kuungkapkan, ingin sekali rasanya menyatakan perasaanku padanya, tetapi aku terlalu takut takut jika dia akan menjauhiku. Hanyut dalam kesunyian tiba-tiba ada suara telepon bergetar.
drtt ...
drtt ...
Ternyata itu suara handphone miliknya, atensiku menuju pada handphone yang ada di genggamannya. Tak sengaja kulihat ia sedang berbalas pesan dengan seseorang.
Waktu seakan terhenti, hatiku terasa sakit. Sedih rasanya kulihat ternyata dia tengah bertukar pesan dengan seorang gadis yang sepertinya adalah kekasihnya? Mungkin?
Dengan rasa penasaran yang terbaru terasa takut aku memberanikan diri bertanya padanya, "Hei, apakah itu kekasihmu?"
Dia mendongak mengalihkan atensinya dan menatap mataku ia lalu menjawab, "Ah iya, dia kekasihku dan hubungan kami juga terhitung masih baru. Namanya Senja."
Seakan dihantam ribuan batu, aku terdiam dan tergugu. Ada rasa sakit dan tak dapat kuutarakan. Perasaan yang sudah lama kupendam kini harus gugur begitu saja, apakah ini saatnya untuk aku menyerah? Sakit sekali rasanya.
Setelah mengambil raport milikku, aku lalu pergi ke tempat di mana aku bisa menemukan ketenangan, dan semenjak hari itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi ataupun hanya sekedar berbalas pesan. Namun perasaanku padanya akan terus abadi selamanya.
No comments:
Post a Comment