Keping Kenangan: Kisah Cinta Putra dan Bella
Cerpen karya Naswah Bella Isvianty Zahra
Sengaja menginjakkan kaki ini di sebuah sekolah. Mata yang menjelajah, mencicipi setiap sudut sekolah. Tempat ini masih sama, tetapi ada yang berbeda, kami bukan lagi bagian dari mereka. Bangunan yang tak asing di mata. Jika bisa, ingin rasanya mengatakan terima kasih kepada arsiteknya, telah menciptakan sumber kerinduan.
Hentakan kaki yang melangkah penuh dengan rindu. Sesekali menatap ruang kelas yang kosong. Bertanya kepada hati, akankah masih memori yang dulu kita ciptakan bersama? Akankah masih tabungan rindu yang tersimpan?
Mata tertegun, melihat deretan bangku yang dulu pernah menjadi saksi kebahagiaan. Tak sengaja meneteskan air mata, mengingat beberapa peristiwa yang menyenangkan. Dulu, ruang ini pernah menjadi dunia kami. Suara teman-teman yang tertawa, guru yang menegur, dan bel sekolah yang nyaring kala itu.
Masih teringat jelas, setiap pagi kami berlari-lari kecil menuju gerbang sekolah sebelum penjaga menutupnya. Wajah-wajah cemas bercampur gelisah saat hampir terlambat. Ada si Putra yang selalu datang lima menit sebelum bel masuk, rambut acak-acakan, dan baju yang entah kenapa selalu kusut.
Bella, yang dulu adalah gadis yang selalu duduk di bangku paling depan. Gadis yang berambisi dalam pelajaran di sekolah. Gadis ceria yang dituntut orang tua untuk sukses di sekolah.
Kelas 10.9, ruangan yang letaknya paling ujung dari sudut sekolah, ruangan yang konon katanya memiliki cerita mistis. Tetapi di balik itu, tempat tersebut adalah ruangan di mana mereka dipertemukan pertama kalinya.
Awalnya Bella hanya menganggap ia teman sekelas, tanpa tersirat untuk menyukainya. Ia urak-urakan, kerap kali menjadi langganan guru BK, dan yang terpenting baginya adalah uang saku. Bagaimana aku tahu? Putra yang memberitahuku kala itu. Tetapi, sifat humoris dan keahliannya di bidang olahraga yang membuatnya tampak mempesona. Sayangnya tidak pandai mengungkapkan kata-kata.
Ia sangat aktif dan mudah berbaur di kelas, ia pun langsung memiliki teman-teman akrab yang kami sebut Genk Basis. Bukan karena tampang mereka yang mengerikan seperti genk-genk om jalanan, tetapi itu sebutan akrab dari teman-teman perempuan kita di kelas. Mereka sudah seperti pena dan tinta, kemana-kemana selalu bersama. Sulit tuk dipisahkan.
Saat kami kelas 10, di sekolah mengadakan kegiatan Pramuka, yang mengharuskan menginap 3 hari 2 malam di Sekolah. Bella yang pada saat itu menjadi panitia dan Putra yang menjadi salah satu pesertanya. Putra mewakili kelasnya dalam kegiatan tersebut.
Malam pun tiba, kegiatan pada hari itu telah selesai, sambil tiduran rehat dari kegiatan hari pertama, Bella pun memberikan pesan melalui chat WhatsApp “Pelajarin tuh, besok di test” sambil mengirimkan foto teks Tri Satya dan Dasa Dharma. Jarak kami sangat dekat, hanya dipisahkan oleh tenda yang berbeda. Putra menjawab pesan “Lah, lagi males ngafalin” Bella pun tidak heran dengan jawaban itu, karena pada dasarnya Putra memang terlihat tidak suka menghafal. Itu adalah chat pesan pertama kali nya. Karena Bella merasa tidak puas, Bella pun membujuk Putra untuk menghafalkan. Tetapi sayangnya, chat terakhir Bella hanya dilihat saja, tidak direspon olehnya. Bella menelfon tetapi diangkat sebentar kemudian mati.
Seperti menelepon artis bintang lima yang banyak Job.
Setelah kegiatan selesai dan sudah pulang kerumah masing-masing, Bella pun masih mengirimkan pesan chat kembali sambil membuka topik duluan, memang di sini buih-buih cinta sudah muncul.
Seiring berjalannya waktu, mereka terus saling mengirimkan pesan. Teman-teman kelas Bella pun ikut mencomblangkan mereka berdua, hingga mereka sering tersipu malu.
Akhirnya pada suatu ketika, di mana hari yang tidak Bella sangka, Putra berani menemui dan mengungkapkan perasaannya kepada Bella. “Kamu mau gak jadi pacarku?” Bella menjawab dengan yakin “Iya, aku mau”. Ramai sahutan dari teman-teman kelas saat itu.
Setelah Bella menjawab pertanyaan itu, terpikirkan olehnya, Bella tidak tahu apakah ini awal yang baik untuknya, atau malah awal keburukan yang menimpa Bella. Memang senang rasanya ada seseorang yang baru hadir di kehidupan.
Saat itu semangat untuk ke sekolah semakin bertambah, mereka menjalani hubungan dengan sederhana, tetapi sering koar-koar di story Instagram. Mereka sering belajar bersama di kelas, mengerjakan tugas bersama-sama, di saat teman yang lain asyik bermain, mereka lebih memilih untuk berdiskusi tentang masa depan. Selain satu kelas, mereka juga sering terlibat satu kelompok diskusi. Mereka saling mensupport satu sama lain, dengan mengikuti organisasi di sekolah. Bella bersyukur bisa sedikit merubah sifat malas dan tidak rapi nya Putra.
Mereka dekat sejak kelas 10, dan mereka sempat dipisahkan saat naik kelas 11. Tetapi Putra mengusahakan untuk bisa masuk di kelas Bella. Semangat Bella semakin hidup, ada banyak teman baru di kelas dan pria yang selalu ditunggu kehadirannya pun ikut serta dalam kelas itu. Kebahagiaan yang tiada habisnya dapat berkumpul dengan teman-teman dekat juga. Sekolah seperti obat dari semua lelah, tidak suka kalau hari libur tiba. Hari Senin yang dianggap kelabu, tetapi tidak denganku.
Kami semakin berkembang saat bersama, mendapatkan penghargaan karena berhasil membuat karya, saling memberikan semangat.
Lama kelamaan sifat Putra yang dulu sudah berubah menjadi lebih baik, berangsur-angsur menghilang, berubah menjadi pemurung. Entah apa masalah yang terjadi, komunikasi yang semakin berantakan dan jarang berdiskusi berdua lagi.
“Kenapa kamu berubah?” ucap Bella dengan penasaran.
“Aku berubah karena kamu” jawab Putra.
“Aku memang banyak salah denganmu, tapi apa sefatal itu?" ucap Bella.
“Kamu sibuk dengan duniamu sendiri” jawab Putra dengan cetus.
Bella langsung terdiam dan bertanya dengan hatinya, apakah karena aku terlalu sibuk
dengan sekolahku?
“Aku memang menjabat bagian inti dalam sebuah organisasi, yang pastinya mengiris waktu luangku,” ucap Bella dalam hati.
Dan ternyata hari kemalangan pun terjadi, Putra membuat Story Instagram foto bersama gadis manis tetangga kelas. Story Instagram yang dulu hanya berisikan foto Bella dengan Putra. Kini tergantikan dengan foto gadis manis yang ternyata sudah hadir sejak mereka bersama. Bella memang melihat percakapan mereka di whatsapp yang begitu asyik saat kami masih bersama, tapi Bella tidak mempermasalahkan. Hanya menganggap “Ah, mungkin hanya teman biasa”. Dan ternyata teman Putra memberinya beberapa fakta yang mengejutkan. Kejadian yang tidak pernah ia fikirkan akan terjadi, tidak percaya kejadian ini akan menghampiri.
Aku masih ingat betapa hancurnya saat aku melihat mereka bersama. Semangat sekolah
yang menghilang, nilai di kelas juga ikut turun saat dulu. Ucap Bella dengan sedikit kesal.
Aku menghampiri meja, mengusap coretan yang dulu kita buat. Bella & Putra.
Lukisannya masih bisa dilihat, tapi tidak dengan orangnya.
Kalau kamu mendengar, Putra.. “Bella berbisik pada debu”. Aku nggak marah lagi, aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu.
“Kini aku kembali ke hadapan beribu kenangan, datang untuk berdamai dengan rindu
yang selama ini aku simpan. Rindu yang sempat membuatku takut jatuh cinta lagi. Rindu
yang membuatnya menggantung masa lalu seolah belum selesai,” ucap Bella.
No comments:
Post a Comment