Bahasa di Ujung Merah Putih
Karya: Priska Ega Ardita (Kelas XI.6)
Aku mencintai negeri ini bukan hanya dengan kata,
tetapi dengan suara yang menjaga maknanya.
Bahasa yang lahir dari tanah dan air,
menyatu di dada anak bangsa,
menjadi jembatan hati di seluruh Nusantara.
Setiap kata adalah butir perjuangan,
yang dulu diucap dalam sunyi dan keberanian.
Dari Sabang sampai Merauke,
bahasa ini menyatukan langkah,
menjadi pelindung di tengah badai perbedaan.
Aku belajar mencintai tanah air,
dari tutur lembut seorang ibu,
dari doa yang mengalun dalam bahasa sendiri,
dari bendera yang berkibar megah,
menyebut “Indonesia” dengan suara yang satu.
Selama bahasa kita hidup,
selama cinta berakar di jiwa,
tanah air takkan pernah sepi,
karena setiap kata yang kita jaga,
adalah doa bagi bangsa yang merdeka.
No comments:
Post a Comment