Sunday, January 25, 2026



Pangkalan Muri Raya SMAN 1 Bangunrejo Raih Sejumlah Prestasi

Pada Hari Minggu 25 Januari 2026, anggota pramuka SMAN 1 Bangunrejo mengikuti kegiatan lomba kepramukaan di STIT Bustanul Ulum, Jaya Sakti, Anak Tuha, Lampung Tengah. Kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan kampus STIT BU yang mengundang sekolah-sekolah di seputaran Lampung Tengah, mulai dari SD/MI, SMP/MTS sampai SMA/MA/SMK. Pada tahun-tahun sebelumya, SMAN 1 Bangunrejo belum pernah mengikuti kegiatan yang diadakan perguruan tinggi tersebut. Pada Tahun 2026, untuk pertama kali, Gudep SMAN 1 Bangunrejo mengirimkan anggotanya untuk berkompetisi di even yang oleh pihak penyelenggara dinamai SECORA STIT Bustanul Ulum.

Pramuka SMAN 1 Bangunrejo mengikuti beberapa cabang lomba dan mendapatkan raihan prestasi yang membanggakan yaitu Juara 2 Lomba Story Telling, Juara 3 Debat, Juara Harapan 2 Joget Komando, dan Juara Harapan 1 Lomba Desain Logo.

Wednesday, November 19, 2025

 


Cerita Syfa

Ternyata benar, ya, setiap nikmat yang Tuhan berikan kepada kita, harus benar-benar kita syukuri apapun jenis dan bentuk nikmatnya, mau besar, mau kecil, semua harus disyukuri.

Hai, aku Syifa dan inilah cerita singkatku.

Pada liburan semester lalu, aku berlibur ke kota Depok. Di sana aku bersenang-senang dan bertemu rindu dengan keluarga. Aku tidak menghabiskan waktu lama di sana, terbilang cukup sebentar, yaaach … hanya sekitar 5 hari. Ketika hari ke-4, saat aku sedang bersantai di depan televisi, bibiku bertanya "Syifa, mau ke kota tua atau ke monas saja?"

Lalu aku pun menjawab, "Terserah bibi saja." Lalu kita berdiskusi, dan setelah berdiskusi dengan mempertimbangkan segala hal, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat menuju Kota Tua Jakarta. Kami berangkat sekitar jam 5 sore, menaiki kereta. Kami berangkat dari stasiun Manggarai dengan pemandangan senja yang banyak orang bilang senja itu indah, serta pemandangan gedung-gedung tinggi khas Kota Jakarta yang sangat indah. Singkat cerita, setelah berdesak desakan di dalam kereta dengan ratusan orang, kami tiba di pemberhentian akhir stasiun kereta tersebut. Kami turun dengan buru-buru karena mengejar waktu untuk shalat maghrib. Setelah shalat, kami pun mulai berjalan mengelilingi kota tua, dengan kamera yang stand by dong pastinya, karena aku adalah orang yg mempunyai prinsip "SETIAP FOTO ADALAH MOMEN” yang harus diabadikan.

Kami terus berjalan menelusuri kota tua, dan setelah puas berkeliling, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke bangunan utama pusat kuliner. Ternyata, sewaktu kami masuk ke dalam, langit mulai menurunkan buliran air dengaan sangat deras. Kami melanjutkan makan sembari menunggu hujan reda. Ternyata, ketika kami selesai makan pun, hujan tak kunjung reda, kami menunggu lumayan lama hingga akhirnya memutuskan untuk berjalan ke teras bangunan tersebu. Setelah menginjakkan diri di teras, betapa tersentuh hati kecilku, yang melihat seorang kakek tua di tengah hujan lebat berdiri dengan sekuat tenaga yang ia punya.  Dia berjalan kesana kemari menawarkan jas hujan yang dia jual, dengan harapan ada yang membeli untuk mendapatkan rupiah guna mencukupi kebutuhan hidupnya. Aku melihat dengan perasaan yang tak bisa dideskripsikan. Lalu sewaktu aku memandangi beliau, ada 2 anak kecil yang sudah kedinginan, menghampirinya, mereka masih sangat kecil, badanya pun kurus dengan penampilan lusuh. Sewaktu aku lihat dengan teliti, ternyata mereka adalah keluarga dengan status kakek dan cucunya.

Kalau kalian pikir anak kecil ini sedang bermain di Kota Tua, no no no, kalian salah besar. Mereka hujan-hujanan membawa tisu dan air mineral untuk dijual di tengah ramainya hiruk pikuk manusia yang sedang berwisata. Ahhh, sungguh menyentuh hati. Anak yang masih terbilang sangat kecil itu, yang seharusnya sedang bermain dan  menikmati indahnya dunia masa kecil, dan seorang kakek tua yang seharusnya menikmati masa masa tua dengan istirahat, harus melawan semua angannya demi mendapat rupiah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Aku bergerak, memutuskan untuk membeli sepasang jas hujan yang dijual kakek itu. Lalu kalian tahu? Ucapan syukur dan doa baik keluar dari mulut sang kakek, ia berkata "Puji Tuhan, terimakasih ya, Nak. Semoga dilancarkan rezekinya." Mendengar itu aku menjawab dengan sedih, sangat sedih.

Sejak hari itu aku berpikir, mungkin ketika hujan, banyak orang bersantai menikmati cuaca dengan berbagai cara, seperti menonton, memasak mie dan acara acara menyenangkan lainnya. Namun mereka, untuk beristirahat pun pasti terpikir akan kebutuhannya di hari esok. Jadi, jangan lupa bersyukur ya, kalian!

Tidak harus selalu melihat ke atas untuk membandingkan apa yang kita punya dengan orang lain, kita juga perlu sesekali melihat ke bawah, bukan untuk merendahkan, tapi untuk reminder rasa syukur, bahwa bisa saja, nikmat yang belum kita syukuri di masa sekarang, adalah harapan bagi mereka yang sedang berjuang di luar sana.


 


Tour Kota Bandung

Cerita Nia Silvia

 

Hai, aku Nia, gadis manis yang riang dan ceria. Kisah ini dimulai saat aku melaksanakan study wisata atau study tour, tepatnya saat aku masih kelas 8 SMP. Aku melaksanakan study wisata atau study tour ke kota Bandung, pada tanggal 12 - 15 Mei 2024. Sebelum berangkat study tour, aku dan teman-temanku 1 angkatan dikumpulkan di mushola sekolah.  Sembari menunggu bus-nya datang kita semua membahas tempat - tempat yang akan dikunjungi dan membahas peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar saat study tour.

Tak lama kemudian 3 bus datang untuk menjemput kami, tanpa menunggu waktu lama kita semua langsung berangkat ke kota Bandung. Aku berada di bus terakhir yang bernomor urut 3, bus yang paling mungil di antara bus lainnya, namun aku sangat senang karena bus nomor 3 berisi teman-teman kelasku semua. Perjalanan sudah berlanjut selama kurang lebih 4 jam, dan karena sudah menunjukan waktu sholat ashar, kita berhenti sejenak di rest area yang pertama untuk beristirahat dan melaksanakan ibadah sholat ashar. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan, dan Ketika sudah masuk jalan tol, bus yang aku naiki dengan teman-teman kelas ku saling salip menyalip dengan bus nomor urut 1. Karena tidak ingin kalah aku dan teman-temanku berteriak kepada supir bus "Om salip om, salip!!!" Lalu bus kami berhasil menyalip bus 1. Bus 1 juga tidak ingin kalah dengan bus kami, jadi bus mereka mengejar dan berhasil menyalip bus kami. Terjadilah sekitar 3-4 kali salip menyalip, dan setelah itu bus kami mengalah dan membiarkan bus 1 berada di depan bus kami.

Sesampainya di pelabuhan Bakauheni, sembari menunggu kapal sandar aku mengirim pesan kepada orang tuaku kalau aku sudah sampai di pelabuhan Bakauheni, karena mereka selalu menunggu dan menanyakan kabarku. Setelah kapal sandar aku dan teman-temanku melaksanakan sholat maghrib di kapal. Setelah melaksanakan sholat maghrib, aku dan teman-temanku berjalan mengelilingi kapal, sampai berada di lantai paling atas. Aku sudah merasa lelah dan pusing, jadi aku dan teman-temanku memutuskan untuk duduk sebentar. Tempat duduk yang diduduki oleh teman-temanku sudah penuh, jadi aku memutuskan untuk duduk di sebelah bapak bapak random yang berada tepat di depan teman-temanku. Aku memejamkan mataku dan menutupnya menggunakan tangan karena aku sudah merasa sangat pusing. Teman-temanku iseng, mereka mengambil foto aku yang sedang duduk  di samping bapak bapak random lalu di kirim ke grup circle kita dengan menghubungkan emoji love di tengah nya dengan caption "Cie-cie Nia, nemu cowo di kapal", melihat hal itu bukanya membuat aku sebel, kesal tetapi hal itu malah membuatku tertawa sampai ngikik karena kekonyolan dan kerandoman mereka.

Setelah 2 jam lamanya kapal telah sampai di pelabuhan Merak, kita semua kembali ke bus, lalu turun dari kapal, dan melanjutkan perjalanan, aku merasa lelah dan kepalaku juga masih terasa pusing, jadi aku memutuskan untuk tidur. Tak terasa perjalanan sudah sampai di kota Bandung, lalu aku terbangun oleh jalanan menuju daerah Lembang yang berliuk liuk seperti ular. Setelah sampai di Lembang aku dan teman-temanku turun dari bus,  kami berjalan-jalan sebentar sambil mencari toilet, udara di sana sangatlah dingin sampai-sampai bunga kol yang ada di sana pada beku semua. Aku dan teman-temanku mengantri di sebuah toilet untuk mandi, ada salah satu temanku melihat bahwa toilet yang sedang kita antri adalah toilet VIP, lalu teman-temanku kabur, lari semua dan aku pun kebingungan, jadinya aku ikut lari juga. Setelah itu aku dan teman-temanku ke toilet di sebelah toilet VIP yaitu toilet biasa, ya emang si harganya lebih murah tapi aku menyesal, kenapa aku tidak di toilet VIP saja, sudah jelas di sana fasilitasnya bagus, ada air panas juga untuk mandi, tapi sudah terlanjur mau kembali juga antriannya pasti sudah tambah panjang. Jadi aku terpaksa mandi di toilet ini. Airnya sangatlah dingin seperti sifat dia.

Sesudah mandi, bersiap-siap dan selesai sarapan, aku dan yang lain kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan menuju Tangkuban Parahu. Di sana aku sangat bahagia melihat pemandangan yang sangat indah dan di sana juga aku kaget karena melihat bule yang lumayan banyak. Berbadan tinggi seperti tiang listrik, berkulit putih dan berambut pirang. Saat aku berpapasan dengan salah satu bule aku kaget dengan kata-kata yang diucapkan yaitu "punten" dengan berjalan menunduk.

Setelah selesai di Tangkuban Parahu, kami melanjutkan perjalanan ke floating market Lembang. Aku dengan teman-temanku merasa senang sekali, kami berjalan-jalan mengelilingi tempat tersebut dan menghabiskan waktu untuk berfoto. Tak lama kemudian aku merasa tidak enak badan, kepalaku pusing, perutku sakit dan mual. Saat akan naik bus lagi, temanku memanggil anggota medis dan mengadukan keluhanku, lalu medis itu memutuskan untuk untuk menyuntikku, tetapi aku menolaknya, beberapakali mereka merayuku tetapi aku tetep saja menolak, aku tidak mau disuntik karena aku sangat takut dengan jarum suntik.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Mini Mania. Aku berusaha menstabilkan badanku. Setelah masuk ke Mini Mania aku merasa senang sekali karena aku bisa berkeliling dunia hanya dalam waktu 2 jam, mungkin tidak sampai 2 jam, tetapi aku merasa sangat aneh dan heran kenapa penjaganya sangat mini-mini, apa karena nama nya Mini Mania, ya? Jadi semua yang di sana serba mini-mini. Hal itu membuatku tertawa dan bahagia karena masih ada orang yang lebih kecil dariku tetapi umurnya lebih tua dariku. Tiba-tiba badanku terasa mendingan, akupun sempat heran apa karena aku merasa bahagia jadi badanku sudah terasa mendingan.

Setelah selesai di Mini Mania, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Hotel Fabu untuk beristirahat. Di Hotel Fabu aku dan teman-temanku mendapatkan kamar nomor 206 yang berada di lantai 2, kamar hotel yang luas dan indah serta dilengkapi denga fasilitas yang bagus. Setelah itu aku dan teman-temanku membereskan koper dan barang bawaan, lalu kami mandi, makan, bercanda-candaan, setelah itu tidur.

Setelah malam berlalu aku dan teman-temanku bersiap-siap untuk menuju ke Museum Geologi. Setelah mandi kami turun ke lantai dasar untuk sarapan. Selepas sarapan kami langsung berangkat ke museum Geologi. Sesampainya di museum Geologi aku dikejutkan oleh segerombolan orang. Baru saja kami turun dari bus sudah dikerubungi puluhan pedagang, kayak kita mau borong aja semua jualan mereka padahal mah engga. Lagian mau borong juga duit dari mana. Setelah itu kita semua langsung masuk ke museum, baru saja masuk museum sudah dikejutkan lagi, tetapi bukan karena pedagang, melainkan fosil gajah yang sangat besar. Di sana aku melihat batu-batu bersejarah, fosil-fosil dinosaurus, dan benda-benda bersejarah lainnya. Part yang paling menyenangkan adalah ketika saat nonton video awal mulanya bumi terbentuk, di ruangan yang gelap seperti sedang sedang  menonton film di bioskop.

Selesai kegiatan di museum Geologi kami balik lagi ke hotel, tetapi bukan hotel Fabu, melainkan hotel yang berada tepat di depan pusat perbelanjaan oleh-oleh di Cihampelas, aku tidak tau pasti namanya jadi aku menyebutnya hotel di depan pusat perbelanjaan Cihampelas, kami semua ke hotel tersebut untuk makan siang. Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Masjid Raya Bandung yaitu Masjid Al-Jabbar. Masjid megah yang berada di tengah danau dan dijuluki sebagai Masjid Apung karena dibangun di tengah waduk di wilayah Gedebage, Kota Bandung. Untuk dapat menginjakkan kaki di wiayah Masjid Al-Jabbar tidak di perbolehkan menggunakan bus, jadi kami semua naik odong-odong yang sudah disediakan. Sampainya di masjid, aku dan salah satu temanku memutuskan untuk sholat ashar di sana, apalagi tempat yang dikunjungi adalah masjid Al-Jabbar, masa engga sholat? Rugi dong. Setelah selesai sholat aku dan salah satu temanku kembali ke titik kumpul awal di mana semua teman-temanku ada di sana. Setelah sampainya di sana aku kaget, loh kok sepi? Tasku juga yang sebelumnya aku titipkan ke teman-temanku sudah tidak ada, aku mencari kesana kemari tapi tidak ketemu juga, eh ngga tau nya aku sudah ditinggal pergi duluan dan tasku juga sudah dibawa ke bus. Tanpa pikir lama aku langsung bergegas kembali ke bus.

Setelah semua anggota lengkap kami menuju tempat terakhir yaitu ke Cihampelas, pusat perbelanjaan oleh-oleh. Aku dan salah satu temanku turun dari bus dan memutuskan untuk menyusul teman-temanku yang sudah duluan pergi ke mall. Setelah sampai di mall aku berjalan mengelilingi mall untuk mencari teman-temanku. Niatnya nyariin teman, eh malah aku yang dicariin karena nyasar.  Setelah bertemu dengan teman-temanku, kami semua langsung kembali ke bus. Kami juga sudah membeli oleh-oleh yang cukup banyak.

Puas belanja dan jalan-jalan di Cihampelas kami melanjutkan perjalanan kembali ke Lampung. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kayaknya baru kemarin deh aku sampai di kota Bandung, lah sekarang udah mau pulang aja. Jujur rasanya sedih banget ketika mendengar kata-kata pulang. Sebenarnya aku belum ingin pulang tetapi aku ga boleh egois, di rumah juga ada keluargaku yang menanti kepulanganku. Lagian kalo ngga mau pulang juga di sana mau sama siapa, orang jadwal study tournya aja udah selesai.

Teman-teman, sampai di sini dulu ya ceritaku dengan kota Bandung, lain waktu kita sambung kalau aku ke Bandung lagi, ya ... byee byeee.

Tuesday, November 18, 2025

 





Broken Home

Cerita Silfia

Namaku Silfia, aku anak pertama dari 2 bersaudara. Aku dan adikku yang sekarang hidup bersama ibuku berasal dari keluarga broken home dan aku menulis ini menurut fakta kehidupan yang kualami.

Saat aku masih kecil keluargaku adalah keluarga yang cukup bahagia meski hidup dalam keterbatasan. Sampai aku kelas 2 SD hidup kami cukup tenang. Tapi ketentraman itu seketika hilang ketika aku beranjak kelas 3 SD. Di mana saat itu aku sedang tumbuh menjadi perempuan yang beranjak remaja, yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari keluarga terutama orang tua, tapi aku tidak mendapatkan itu. Yang aku dapatkan hanya ketidaktenangan ketika aku berada di rumah. Orang tuaku selalu bertengkar setiap hari, entah apa yang mereka tengkarkan, mungkin karena kondisi ekonomi. Pertengkaran itu terjadi kadang hingga malam hari yang tentunya mengganggu aku dan adikku. Aku sangat kecewa kepada orang tuaku yang tidak memberikan perasaan damai kepada anak-anaknya. Kasih sayang yang seharusnya kami dapatkan pada masa remaja, hilang lenyap begitu saja dan aku tidak pernah merasakan itu, dengan banyaknya pertengkaran dan keributan yang terjadi. Akhirnya orang tuaku resmi berpisah.

Mendengar dan menyaksikan perpisahan itu rasanya hati dan perasaanku seketika hancur, air mata pun jatuh tanpa disadari, ingin rasanya menanyakan kepada orang tuaku apa yang mereka pikirkan sehingga tega membuat anak-anaknya seperti kehilangan akal, karena merasa terpukul akan perpisahan itu. Mungkin perpisahan ini memang baik untuk mereka, tapi tidak dengan kami. Hati kami hancur,  perasaan kami hilang seketika, rasanya ingin sekali menjerit sambil berkata "Ya Allah mengapa semua ini terjadi pada keluarga kami." Perpisahan pun terjadi, ayahku pergi meninggalkan kami semua tanpa berpikir Panjang. Ayahku pergi ke rumah nenekku yang tidak jauh dari rumah kami.

Kehidupan kami pun berubah seketika, yang dulunya hidup dalam rumah yang sama dengan ayah sekarang hanya bersama ibu. Rasanya ada yang kurang dalam hidup ini tanpa seorang ayah, sedih rasanya melihat ibu bekerja sendiri untuk menafkahi kami. Memang berat beban ibuku semenjak pisah dari ayah semua tanggung jawab ayah ibuku yang menanggungnya. Karena semenjak berpisah ayahku seakan lupa tanggung jawabnya terhadap kami. Sering saya menuntut hak kami kepada ayah tapi ayahku pun tak menghiraukan hal itu lagi.  Ayahku sudah mempunyai kehidupan baru, ayahku menikah lagi. Sungguh kasih sayang terhadap kami pun hilang semenjak ayah pergi menikah lagi. Aku sering iri kepada teman-temanku yang keluarganya utuh. Aku ingin mendapatkan kasih sayang dari ayahku, dan aku sering bertanya kepada diri sendiri apakah aku bukan anaknya? Ayah saya lebih mementingkan keluarga barunya, giliran kami minta apa-apa selalu dimarahi. Sementara kalau istri baru dan anak-anaknya yang minta pasti langsung dikasih. Terlihat tidak adil bukan?

Tapi aku masih bersyukur mempunyai seorang ibu yang luar biasa seperti ibuku. Dia banting tulang sampai saya kelas 3 SMP. Lalu ibuku memutuskan pindah ke Lampung yaitu tempat adiknya ibu, supaya kami bisa melanjutkan sekolah kami.

Singkat cerita, sekolah SMA Negeri 1 Bangun Rejo adalah sekolah baruku. Aku masuk kelas X.2 dan seperti biasa aku langsung memilih kursi dekat jendela.

Aku tahu apa yang dipikirkan oleh anak-anak lain. Tatapan mereka yang penuh rasa ingin tahu, lalu bisikan yang berhenti saat aku lewat. Mereka tahu aku murid pindahan. Aku jarang berbicara dan berusaha keras terlihat sibuk dengan buku novel yang aku bawa, meskipun pikiranku seiring sekali melayang ke masa lalu. Sampai suatu hari, saya mendapatkan satu teman bernama Qhorisa. Qhorisa adalah murid pindahan dari Solok, Padang. Dia lucu, menggemaskan, dan pintar. Dia seorang teman yang melihat diriku yang sebenarnya, bukan label yang melekat padaku. Sejak hari itu aku duduk bersama Khorisa. Saat istirahat kami berbagai bekal dan aku sering tertawa sampai sakit perut karena leluconnya yang aneh.

Aku tahu, rumahku mungkin broken home, tapi hatiku tidak. Dan sekarang, di sekolah SMA Negeri 1 Bangun Rejo, aku mulai membangun rumah baru untuk diri sendiri, sehelai demi sahelai dengan fondasi yang kuat bernama persahabatan dan dibumbui dengan tawa konyol kami. Aku tidak lagi menjadi si pengamat yang tak terlihat. Aku adalah Silfia dan aku mulai mencintai siapa diriku sekarang.

Friday, November 14, 2025

 


Anak Tengah

Refleksi Hayfa Aretha

Hai, namaku Aretha, aku anak kedua dari tiga bersaudara. Aku sudah terbiasa jika harus mengalah dengan ke-dua saudaraku, terkadang aku iri dengan anak tunggal yang tidak perlu mengalah dengan saudara kandungnya. Aku memang sering mengalah, salah satunya saat Papah membelikanku gadget baru, tapi kakakku malah menukar punyaku yang baru dengan gadget bekas miliknya, aku hanya bisa menerima gadget bekasnya itu dengan mengikhlaskan gadget baru ku itu, tak lama dari itu ia dibelikan HP baru, dan aku hanya bisa memendam rasa iriku. Walau begitu aku berpikir ia memang membutuh kan ke-dua gadget baru itu, dibandingkan aku yang tidak terlalu membutuhkannya.

Selain mengalah, aku juga sering disuruh-suruh oleh orang tuaku, seperti “Areta, tolong beliin Papah rokok!” atau “Areta, nyapu!”, “Areta, cuci piring!Kadang aku mikir kok aku terus si yang di suruh, tapi di waktu yang berbeda aku juga berpikir, kalo bukan aku siapa lagi yang bantu orang tuaku, adek juga masih belum seberapa ngerti. Ternyata emang hanya aku yang selalu bisa mereka andalkan.

Dunia selalu adil jika kita mencoba untuk melihat dari sisi yang lain, jika menurutmu dunia tidak adil terhadap dirimu, mungkin itu demi keadilan untuk orang lain.


 

 


Persahabatan yang Telah Luntur

 Cerpen Ghaniyah Al Fayen

 

Hai, perkenalkan aku adalah Al, dulu aku memiliki sahabat yang bernama Putri, tapi sekarang kita sudah di jalannya masing masing atau bisa dibilang kita sudah tidak berteman dekat seperti dahulu lagi.

Aku berteman dengan dia dari kecil sampai kita masuk SMP, namun kita berbeda sekolah. Sejak saat itu komunikasi kami mulai rusak karena saya sudah terlalu fokus dengan teman di sekolah saya, tetapi tidak dengan dia. Dia masih sering menghubungi saya, namun saya jarang membalas pesannya dikarenakan sibuk dengan urusan pribadi saya.

Pada suatu ketika saya hilang kabar dengan dia karena saya terlalu sibuk dengan kegiatan yang ada di sekolah saya, sampai pada saat Putri ulang tahun saya hampir lupa, dan saya pun berniat mengerjai nya dengan mengirim pesan ke nomor dia dan menggunakan nama orang lain. Pada saat itu dia terkejut karena saat dia bertanya yang menjawab bukan saya tetapi orang lain, padahal itu adalah saya hanya saja saya sedang menyamar menjadi orang lain. Tetapi masalah itu malah berujung serius, yang awalnya bercanda tetapi malah menjadi masalah yang cukup serius.

Setelah itu kami hilang kabar sekitar hampir 5 bulan, dan saya memberanikan diri mengirim pesan kepada dia untuk klarifikasi tentang masalah tersebut dan membahas pertemanan kita, dan akhir nya saya memutuskan untuk bisa di tujuannya masing masing, tetapi kita masih berteman hanya saja mungkin jarang saling berkomunikasi saja. Dan sampai sekarang kita sudah benar benar hilang kabar karena kita sama sama sibuk dengan kegiatan yang kami lakukan.




Potong Poni

 Cerpen Qhorisa

 

Malam itu terasa sangat menegangkan. Aku baru saja melakukan kesalahan yang fatal! Saat itu aku berusia sembilan tahun, dan malam itu aku iseng memotong poniku secara diam-diam. Dan di sanalah letak kesalahanku. Poniku kependekan! Saat itu aku sangat panik. Karena panik bukannya berhenti, aku malah terus memotong poniku hingga sangat pendek. Saat itu aku sangat takut dimarahi oleh Bunda.

Aku bolak-balik ke kamar mandi untuk mencuci rambutku dengan shampo, berharap poniku bisa kembali panjang dalam semalam. Aku sampai lupa dengan potongan rambutku yang ada di lantai. Saat akan tidur, tanpa pikir panjang aku menyembunyikan potongan rambut itu di kolong kasur.

Keesokan paginya, aku menutupi poni yang gagal dengan cara menyisir rambut ke samping untuk menutupi bagian pendeknya. Namun tak sampai 24 jam, Bunda menemukan potongan rambut yang kusembunyikan. Pagi itu Bunda sedang membersihkan rumah. Saat Bunda menyapu kolong kasur, Bunda menemukan banyak potongan rambut. Melihat itu, Bunda langsung tahu siapa pelakunya.

“Rii! Sini bentar!” panggil Bunda. Mendengar panggilan itu, aku langsung tahu apa yang terjadi. Dengan gugup aku berjalan menghampiri Bunda. Saat aku berdiri di hadapan Bunda, Bunda langsung memarahiku karena memotong rambut tanpa izin. Dan aku hanya bisa menangis saat itu. Setelah diomeli, aku kabur ke kebun belakang rumah dan bersembunyi di balik pohon kelapa. Bodohnya, saat itu justru aku yang marah. Selama bersembunyi, aku berjanji tidak akan pulang.

Pagi berganti siang, tapi tak ada yang mencariku. Hingga waktu zuhur tiba, aku akhirnya pulang sendiri karena lapar. Sampai di rumah, aku masih diam dan tidak mau bicara dengan Bunda. Aku merasa tidak bersalah saat itu, sampai akhirnya Bunda menghampiriku dan kembali menasihatiku. Awalnya aku berpikir Bunda akan meminta maaf padaku karena telah memarahiku, namun ternyata pikiranku salah. Bunda menasihatiku bahwa apa yang kulakukan memang salah. Pada akhirnya akulah yang meminta maaf.

Pangkalan Muri Raya SMAN 1 Bangunrejo Raih Sejumlah Prestasi Pada Hari Minggu 25 Januari 2026, anggota pramuka SMAN 1 Bangunrejo mengikuti k...